Who we are

Statistik dalam beberapa tahun terakhir mencatat bahwa generasi muda Kristen di berbagai belahan dunia sedang mengalami tren meninggalkan gereja. Padahal mereka adalah pemimpin gereja di masa depan. Jika generasi muda Kristen terhilang maka gereja tidak mempunyai masa depan. Youth Ministry Gereja Kristus Yesus Sunter serius menggumulkan tantangan ini dan berusaha kembali pada esensi Panggilan Gereja yaitu MEMURIDKAN.

Itu sebabnya kami menyebut pelayanan ini Disciple Making Youth (DMY). Inti pemuridan yang dikerjakan oleh DMY adalah membawa setiap orang-orang muda mengalami perjumpaan dengan Kristus, sebab hubungan pribadi dengan Tuhan adalah sumber pertumbuhan rohani orang percaya yang tidak tergantikan oleh apapun.

Kami percaya dalam perjumpaan dengan kemuliaan Kristus yang sempurna itu kemuliaan dunia menjadi sampah dan orang-orang muda menemukan harta yang tiada ternilai dalam imannya. DMY merumuskan seluruh proses tersebut dalam formula Knowing-Enjoying-Serving GOD. Semakin seseorang mengenal Allah semakin Ia akan menemukan keindahan dan kepuasan yang tiada tara, sebab tidak ada yang melampaui kebaikan, keindahan dan kesempurnaan Allah. Dapat dipastikan pergaulan dengan Allah membawa cinta, gairah, dorongan dan afeksi untuk melayani Dia dengan sepenuh hati. Kami percaya pemuda Kristen yang mengenal dan menikmati Allah menghasilkan buah-buah yang memuliakan nama Tuhan. Orang-orang yang demikianlah yang kami disebut MURID, atau dalam istilah kami, Christian Hedonist.

Sejauh ini DMY memiliki 2 kebaktian setiap minggunya; Youth Teen, untuk remaja SMP pk. 07.30 dan Youth Service untuk remaja SMA, mahasiswa dan pekerja muda pk.10.00. Moto ibadah Youth adalah “Worship like no other.” DMY terus menerus menggumulkan untuk menciptakan pujian dan penyembahan yang kreatif, inspiratif dan youthful namun tetap dalam koridor kebenaran.

Kami rindu setiap orang-orang muda mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam gaya dan bahasa anak muda. Mengapa kami lebih fokus pada perjumpaan dengan Tuhan dan menikmatiNya? Sederhananya karena kita biasa memuji hal-hal yang mengagumkan kita. Bukan karena kita dipaksa untuk mengatakannya, tetapi karena hal tersebut benar-benar membuat kita kagum! Ucapan kita adalah refleksi yang keluar dari apa yang kita rasakan, dan kami setuju dengan seorang teolog yang berkata “God is the highest good of the reasonable creatures and enjoyment of Him is the only happiness with which our souls can be satisfied.”